Kemeriahan Street Festival Cap Go Meh Bogor 2016, Ajang Budaya Pemersatu Bangsa

Dari tahun ke tahun rakyat Bogor selalu antusias menyambut perayaan Cap Go Meh yang jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru China (Imlek) dan merupakan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru China (Imlek). Istilah Cap Go Meh (εδΊ”ζš) berasal dari dialek Hokkien, yang secara harafiah berarti hari kelimabelas dari bulan pertama. (Cap = sepuluh, Go = lima, dan Meh = malam).

Cap Go Meh diadakan untuk memperingati hari lahir Siang Goan Thian Koan, dewa yang memerintah bumi dan langit menurut agama Buddha. Pada hari Cap Go Meh, konon Siang Goan Thian Koan turun ke bumi untuk mengampuni umat manusia.

Cap Go Meh juga bisa diartikan sebagai hari Valentine versi China. ^.^



Sejak pagi Klenteng Hok Tek Bio sudah ramai dikunjungi, baik penganut agama Budha yang ingin bersembahyang dan menyalakan hio, maupun pemeluk agama lain yang ingin melihat perayaan Cap Go Meh secara langsung. Klenteng ini memang sangat welcome. Terbuka untuk publik.^.^


Pada hari yang spesial ini klenteng dihias sangat meriah dan cantik. Altar sembahyang penuh dengan patung dewa-dewi, bunga, buah-buahan, lilin, dan hio. Belum lagi lampion-lampion merah yang sangat eyecatching.


Street Festival yang merupakan pawai ajang budaya pemersatu bangsa diadakan mulai jam 15.30 WIB. Tidak seperti acara tahun lalu yang dibuka oleh Presiden RI, Bapak Jokowi. 



Kali ini Street Festival yang ketiga dihadiri oleh Menteri Agama RI, Bapak Lukman Hakim Saifuddin.

Sayangnya sulit untuk memotret beliau di panggung khusus. Beberapa dubes asing juga menghadiri street festival ini. Bayangkan saja kepadatan acara ini. Rakyat Bogor tumpah ruah di sisi jalan. Penonton mencapai sekitar 100 ribu orang, sedangkan peserta pawai sekitar 10 ribu orang. 

Ajang street festival ini tidak membedakan etnis, suku, ras, maupun agama. 
Tidak ada batas. Tidak ada kesenjangan. Tidak ada yang lebih tinggi. Tidak ada yang lebih rendah.
Dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu jua, seluruh penonton dari berbagai status dan kalangan, berbaur dengan harmonis walaupun berdesak-desakkan. 
Rakyat maupun tentara, semua bertemu dalam antusiasme yang melimpah ruah. Dalam euforia kebahagiaan yang saling menular.



Arak-arakan dimulai dari Pasar Bogor - Suryakencana - Sukasari - Siliwangi - Lawang Gintung. Memang area Suryakencana terkenal sebagai Pecinan Bogor. ^.^



Walaupun hujan mengguyur Kota Hujan ini, tidak menghalangi semangat peserta maupun penonton Street Festival. Ribuan payung terhampar ceria menyambut tangisan alam.


Bahkan terdapat pemandangan unik, sang liong (naga) yang bak  di atas payung.

                       

Atau liong yang berselimut plastik. 


Pawai diawali dengan marching band siswa-siswi dan Paskibra.



Pawai budaya yang sangat menarik dan inspiratif. Penuh dengan warna ceria. Dan kaya akan keragaman budaya. Tidak hanya budaya etnis Tionghoa seperti liongsay dan barongsay yang ditampilkan dalam acara ini.


Tapi juga budaya Indonesia yang beraneka ragam. ^.^



Hanoman yang merupakan simbol budaya Indonesia yang kental. Tokoh wayang yang sangat berperan dalam kisah Ramayana.



Batik yang merupakan ciri khas budaya bangsa Indonesia, tampil cantik dalam kostum perca batik.


Budaya Sunda yang menampilkan ikan merupakan lambang kemakmuran. 



Busana tradisional berwarna pelangi yang memanjakan mata.




Kostum lambang negara RI, burung garuda dengan sayap yang terentang lebar. Melambangkan bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan negara yang kuat.



Denting irama musik Sunda mengalun merdu.



Percampuran kultur terlihat pada liongsay ala Sunda ini yang terbuat dari anyaman bambu.


Reog Ponorogo dengan kibasan cantiknya.



Bahkan budaya Bali pun turut menambah semarak Street Festival ini.





Barong Landung sebagai simbol untuk mengusir malapetaka dan sumber penyakit. Boneka besar hitam merupakan perwujudan dari Jaya Pangus, Raja Bali sedangkan boneka cantik tinggi putih merupakan perwujudan dari Kang Cing Wei, seorang putri China. 


Aku sangat terpesona dengan tokoh Bali yang satu ini. Warna kulitnya merah menyala. 



Tarian Lo Cia San Tai Cu turut memeriahkan pawai. Ini kedua kalinya Taiwan ikut berpartisipasi memeriahkan Street Festival. Imut banget, kan? Penonton anak-anak menjerit senang melihat kelincahan mereka bergoyang menari. Acara ini selain menghibur, tapi juga dapat mempererat hubungan persahabatan dengan negara lain. ^.^


Ajang Street Festival ini sangat baik untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan Republik Indonesia. Menimbulkan rasa saling menyayangi dan menghargai keanekaragaman budaya. Meningkatkan kesadaran pentingnya Indonesia Satu demi kemajuan dan kemakmuran bersama. Membangkitkan kesadaran betapa kayanya Indonesia akan warisan budaya yang wajib kita lestarikan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dirinya sendiri. Bangga akan kekayaan budaya bangsa dengan melestarikannya. Selalu optimis dan melangkah maju untuk mengembangkan pribadi yang mandiri, tenggang rasa, baik hati, tawakal, demi kemakmuran dan kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. =)


Comments

  1. Budaya yg patut dilestarikan ya Mbak,ini salah satu buktinya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ^^ street festival sudah 3x diadakan, makin lama makin ramai pengunjung dan pesertanya. trims bnyk sudah berkunjung ke blog ini =)

      Delete

Post a Comment